Perpustakaan UMRI Gelar Bincang Literasi#39 Bertema "Mitigasi Hoaks Berbasis Generative AI : menjadi mahasiswa cerdas,kritis dan bertanggung jawab di era kecerdasan buatan"

Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) kembali menyelenggarakan kegiatan Bincang Literasi #39,Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026) ini menghadirkan Dr. Dian Hasfera, S.Sos., M.I.Kom., dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Imam Bonjol, sebagai narasumber. Jalannya kegiatan dipandu oleh Yorika Indah Pratiwi Nababan, M.Hum. selaku moderator.

Berbeda dengan pelaksanaan Bincang Literasi sebelumnya, kegiatan Bincang Literasi #39 kali ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom. Pelaksanaan secara online dipilih karena mahasiswa sedang berada dalam masa libur. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi antusiasme peserta untuk mengikuti kegiatan. Tercatat kurang lebih 100 peserta turut bergabung dalam kegiatan, yang terdiri atas mahasiswa, dosen, pustakawan.

Melalui tema yang diangkat, Bincang Literasi membahas salah satu persoalan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, yaitu penyebaran hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi dengan memanfaatkan teknologi generative AI. Kehadiran teknologi AI memberikan kemudahan dalam menghasilkan berbagai bentuk informasi, mulai dari teks, gambar, suara, hingga video. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena teknologi yang sama dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan dan menyebarluaskan informasi yang menyesatkan.

Dalam pemaparannya, Dr. Dian Hasfera, S.Sos., M.I.Kom. menjelaskan bahwa perkembangan generative AI perlu diimbangi dengan kemampuan literasi informasi dan berpikir kritis. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang dekat dengan teknologi memiliki peran penting dalam memastikan informasi yang diterima maupun dibagikan telah melalui proses pemeriksaan dan verifikasi.

“Di era generative AI, kita tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu berpikir kritis terhadap informasi yang dihasilkan. Setiap informasi perlu diperiksa sumbernya, konteksnya, serta kebenarannya sebelum dipercaya dan disebarluaskan,” ujar narasumber

Lebih lanjut, beliau mengingatkan peserta agar tidak langsung mempercayai informasi yang terlihat meyakinkan, terutama informasi yang beredar melalui media sosial dan platform digital. Kemampuan untuk mengenali sumber informasi, melakukan verifikasi, membandingkan dengan sumber terpercaya, serta memahami konteks informasi menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi hoaks.

Peserta juga diajak untuk memahami bahwa kecerdasan buatan bukanlah pengganti kemampuan berpikir manusia. Generative AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperoleh informasi, mengembangkan ide, dan mendukung proses pembelajaran. Namun, pengguna tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengecekan terhadap informasi yang dihasilkan oleh AI. Hal tersebut menjadi semakin penting dalam lingkungan akademik, di mana ketepatan, kredibilitas, dan integritas informasi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran dan penelitian.

Salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan ini adalah sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Meskipun kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan mahasiswa sedang dalam masa libur, peserta tetap menunjukkan antusiasme dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan menyampaikan pandangan mengenai penggunaan generative AI dalam kehidupan akademik maupun sehari-hari.

Berbagai pertanyaan yang disampaikan peserta turut memperluas pembahasan mengenai cara membedakan informasi yang benar dan informasi palsu, bagaimana melakukan verifikasi terhadap konten yang dibuat menggunakan AI, serta bagaimana mahasiswa dapat menggunakan teknologi generative AI secara bijak dan bertanggung jawab. Diskusi tersebut menunjukkan bahwa isu hoaks dan perkembangan kecerdasan buatan menjadi perhatian penting bagi mahasiswa di tengah semakin cepatnya arus informasi digital.

Antusiasme peserta yang mencapai kurang lebih 100 orang menjadi salah satu bukti bahwa pelaksanaan kegiatan secara daring tetap mampu menjadi ruang interaksi dan pembelajaran yang efektif. Kondisi mahasiswa yang sedang libur tidak menjadi penghalang bagi sivitas akademika dan peserta lainnya untuk memperoleh wawasan baru mengenai literasi digital, kecerdasan buatan, serta pentingnya bersikap kritis terhadap informasi.

Selain membahas mitigasi hoaks berbasis generative AI, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi peserta untuk meningkatkan kesadaran mengenai etika dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang cerdas, kritis, selektif, dan bertanggung jawab dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

Melalui kegiatan Bincang Literasi Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan program literasi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat akademik. Tema mengenai mitigasi hoaks berbasis generative AI menjadi salah satu upaya perpustakaan dalam memperkuat kemampuan literasi informasi mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal kepada mahasiswa untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi generative AI, tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar, serta membangun kebiasaan melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga kritis dalam menyikapi informasi dan bertanggung jawab dalam ruang digital.

Share this Post